Senin, 23 April 2012

Vaksin DNA untuk Menangkal KHV

Vaksin DNA tidak menimbulkan infeksi, memperbaiki kelemahan vaksin utuh yang dilemahkan
Penyakit Koi Herpes Virus atau KHV sampai saat ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi pelaku usaha ikan mas (Cyprinus carpio linn) dan koi di Indonesia. Bagaimana tidak, serangan virus ini bisa menyebabkan kematian besar-besaran hingga kerugian pun tak terelakkan.
Upaya untuk menanggulangi penyakit ini terus dilakukan, salah satunya penelitian penggunaan vaksin DNA. Penelitian Vaksin DNA itu dilakukan oleh Sri Nuryati, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia mengatakan, sejak terjangkit pertama kali di Blitar, Jawa Timur, penyakit ini telah menyebar ke hampir semua daerah di Indonesia. ”Virus KHV mengakibatkan kematian massal, hingga mencapai 95 % populasi,” ujarnya.
Sri mengungkapkan, dirinya melakukan penelitian ini karena dilandasi rasa gemas terhadap penanganan KHV di Indonesia. Sejak 2002—KHV mulai merebak—para pembudidaya hanya mengobati ikan dengan obat tradisional seperti jamu-jamuan. Pemerintah pun hanya menghimbau dengan pencegahan yang bersifat umum seperti biosekuriti. ”Tindakan itu memang perlu dilakukan, tetapi senjata yang harus dipakai dalam menangkal KHV kan harus ada,” imbuhnya geregetan.
Sebenarnya, menurut Sri, upaya penanggulangan wabah KHV di daerah tertentu telah dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Tetapi penanggulangan dengan metode tersebut terbukti tidak efektif karena hanya membantu mengatasi infeksi sekunder (di luar tubuh) yang disebabkan oleh bakteri, fungi (jamur), atau parasit. 
Ketidakefektifan ini terjadi karena penyebaran KHV dalam tubuh ikan berlangsung antar sel. Dengan kata lain virus tidak perlu keluar sel dan masuk ke dalam sistem sirkulasi tubuh inang untuk penyebarannya. Pasalnya, sifat golongan virus herpes adalah berasosiasi kuat dengan sel (highly cell associated). ”Juga bersifat laten yaitu seumur hidup berada dalam tubuh inangnya,” jelas perempuan berjilbab ini.
Terobosan Eksperimental
Dari kondisi terakhir maka salah satu langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan vaksinasi. Vaksin bisa berupa vaksin konvensional dan vaksin rekombinan.  Vaksin konvensional ini merupakan virus yang sudah dilemahkan maupun dimatikan. Sedangkan vaksin rekombinan merupakan hasil rekayasa genetika, yaitu sekuen gen virus yang bersifat imunogenik disisipkan ke plasmid. Dan plasmid ini selanjutnya dipropagasi (dikembangbiakan) di bakteri E.coli. ”Vaksin rekombinan ini berupa protein rekombinan yang bersifat imunogenik,” ujarnya.
sumber:trobos.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar